0

Jalan berdua saja dengan batita? Challenge accepted!

Sudah sejak tahun lalu suami tugas bolak-balik ke beberapa negara. Sedih deh kalo lagi ditinggal. Sedihnya kenapa? Ya gara2 gak diajakinlah hehehe… Ya beberapa tempat yang dikunjungi memang kemahalan juga sih. Dan as we know, visa-nya bukan ecek2. Jadi gak bisa kalau tanpa perencanaan yang matang alias dadakan. Tapi semangat jalan2 langsung berkobar saat dia bertugas ke destinasi wisata favorit orang Indonesia: SINGAPURA. Hampir 2 tahun harus menunda wisata ke luar Indonesia karena sibuk dengan bocah bayi, sekarang saatnya mulai traveling lagi. Tantangannya adalah, berangkat ke Singapura berdua saja dengan anak batita. Lho kok berdua??? Lha iya… bapakke kan ‘mangkal’ di sana. Mamake harus atur2 cutinya dulu supaya bisa berangkat juga. Continue reading

Advertisements
0

Moody, normalkah?

Holaaaa…

Bulan Maret ini diawali dengan acara psikoedukasi yang diadakan oleh komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI). Ini bukan event pertama mereka, tapi ini pertama kalinya aku teribat. Acara ini adalah inisiatif para pendiri komunitas BCI. Sifatnya terbuka untuk umum, namun memang mayoritas pesertanya adalah anggota komunitas. Liputan lengkap tentang acara ini dapat dibaca di sini. Untuk materinya, kemarin garis besarnya sempat aku share di Twitter. Berikut kopiannya… Continue reading

2

Menyapih Si Raja

Ini sudah hari ke-4 Raja tidak ‘mimik‘. Agak telat sebenarnya, usianya sekarang sudah memasuki bulan ke-29 (2 tahun 5 bulan). Sebenarnya usaha-usaha ke arah penyapihan pun bukan hanya sekarang-sekarang saja dilakukan. Sejak sebelum usia 2 tahun dia sudah kuberikan ‘early warning‘, tapi memang belum berhasil.

Proses penyapihan ini jadi benar-benar membuat yakin bahwa tiap anak memiliki waktu kesiapan yang berbeda-beda. Kalau dulu, permintaan Raja untuk menyusu sangat tidak bisa ditolak. Dia akan memaksa untuk mendapatkan apa maunya. Sempat kehabisan akal juga, dan akhirnya pasrah dengan harapan dia akan ‘emoh‘ dengan sendirinya. ditunggu dan ditunggu, si ‘emoh‘ tak kunjung muncul. Ya sudah, akhirnya jadi berpikir 2 kali deh untuk pasrah hehehe… Continue reading

0

Nasib si adonan ‘gagal’…

Setelah selama ini terbiasa bikin makanan tanpa resep yang ‘zakelijk‘, beberapa waktu lalu adonan pancake-ku GAGAL TOTAL! Entahlah apa penyebabnya. Yah namanya resep karangan sendiri, sulit menelusuri salahnya di mana. Sudah 2 kali dimodifikasi, tetap gagal hasilnya. Akhirnya kuputuskan untuk menambah tepungnya dan membuatnya jadiiiii……………………………….

Tadaaaaaa!

Screen Shot 2014-01-24 at 8.57.55 PM

Banana bread! *ya biasa aja sih sebenernya* *yang penting adonan terselamatkan dan gak kebuang*

0

By Sweety, welcome home Hugey… :)

Setelah 2 tahun lebih menemani dan mengantar-ngantar kami kemana-mana, akhirnya si little beige body harus kami relakan pergi bersama pemiliknya yang baru. Awalnya happy berat, mengingat penggantinya lebih ‘huge‘ dan muat lebih banyak orang. Tapi jadi ingat waktu-waktu yang kami habiskan di jalanan… *mellow mode: ON*

Ya itu mobil pertama kami. Dibeli beberapa bulan sebelum aku melahirkan karena sudah tidak kuat naik motor. Yah sakit punggung gitu deh… *manja* Dulu beli second-hand karena belum kuat beli yang baru. Walaupun bekas, tapi untungnya mobil ini ‘kooperatif’. Tidak harus sering-sering dibawa ke bengkel. Pernah sih dia mogok di detik-detik aku harus kembali ke asrama diklat prajabatan, tapi itu pun gara-gara akinya. Continue reading

3

P.a.n.c.a.k.e.s

Belakangan aku lagi suka utak atik resep dasar pancake. Selain karena bahannya mudah, membuatnya juga praktis. Apalagi di rumah ada cetakan pukis yang bisa bikin ukuran pancake-ku sama semua… :p ini rencananya mau bikin pancake berbahan kacang hijau. Tapi sebelum trial-and-error, aku share dulu 2 resep pancake yang baru-baru ini berhasil ku-‘trial‘ tanpa ‘error‘ hehehe…  Continue reading
6

You better shut up!

First of all, aku pengen nanya dulu deh. Apakah ada yang salah dengan meng-hire jasa babysitter/nanny/pengasuh/pembantu/asisten untuk membantu menjaga anak di rumah? Apakah ada yang salah dengan meninggalkan anak HANYA dengan babysitter/nanny/pengasuh/pembantu/asisten saat orang tua bekerja?
Aku heran ya, kadang orang-orang itu benar2 kehilangan sensitivitasnya ketika bicara. Baru-baru ini aku ketemu dengan seorang kenalan. Memang kami baru kenal, sampai2 dia pun beeeeeerulang2 tanya apakah aku bekerja, lalu anak dengan siapa, and so on. Dan tanggapannya saat aku bilang anakku sehari-hari di rumah bersama pembantu adalah “Ha? Cuma berdua saja dengan pembantu? Gak ada neneknya atau siapa gitu? Wah kalau saya sih takut ya… Gak berani saya. Sekarang mah ngeri…”
*tariknapasdalemdalem*
HELLOOOOOOOOOOOOOOOO…!!! Gila yaaaa orang macam ini kok masih bisa bertahan hidup di masyarakat sih??? Sorry to say, but your words just changed my perception about you. Yeah, it was changed into ARE YOU STUPID OR WHAT??? Lo tau gak sih, bahwa hidup tiap orang itu tidak sama? Lo boleh deh mikir itu menakutkan, mengerikan, atau apalah isi otak lo, but pleeeeeesse, can’t you be more sensitive with your words? Can’t you be just SUPPORTIVE? Gw gak bermaksud takabur yah. Tapi serius deh, gw gak butuh kata-kata negatif lo, karna mestinya lo tau bahwa IT IS TOTALLY COMMON SENSE THAT LIFE CHOICES ARE NOT ALWAYS FIT OUR IDEAL CONCEPTS! Kalau memang tidak bisa membantu atau memberikan solusi yang lebih baik, you better pick supportive words or, please, just shut up. Got it???
*ehbisajugayaguengamukdiblog*