Anak = Investasi?


Anak = Investasi?
Minggu lalu saya ada pasien anak (usia 8 tahun) dengan masalah belajar di sekolah, plus riwayat terlambat bicara waktu kecil. Dia datang dengan keluarganya (ayah, ibu, adik). Selama pemeriksaan, ayahnya cukup dominan. Terlihat pola-pola relasi yang cenderung kurang ‘sehat’, misalnya ayah menyalahkan ibu karena ibu banyak diam, ayah banyak mengkritik anak, ayah menertawakan (sambil tepok jidat!) saat anak merespon pertanyaan saya secara kurang tepat, ibu yang selalu menyuruh adik mengalah (saat pasien dan adiknya rebutan mainan, pasien pasti merengek ke ibu agar mengambilkan mainan yang dipegang adik), dsb. Pertemuan pertama cukup ‘melelahkan’ buat saya karena kondisi fisik saya pun waktu itu tidak terlalu prima. Tetapi untungnya selama 1 jam itu sudah cukup banyak masukan tentang perilaku orang tua dan anak, serta saran-saran agar sesi kedua nantinya lebih ‘adaptif’.

Hari ke-2, pasien ini diantar oleh ayahnya. Sesuai prosedur, si anak saya tes IQ-nya di pertemuan ke-2. Selama pengetesan, anak ini tergolong cukup ‘manis’ dan ceria. Dia mau ditinggal sendiri saat dites. Ya tapi memang terlihat sekali kemampuannya tidak seperti anak-anak seusianya. Selain tes IQ saya ajak juga main balok & mewarnai. Apapun yang penting saya bisa punya waktu lebih lama untuk observasi. Saat tes selesai, ayahnya seperti tidak percaya kalau anaknya bisa ceria dan ‘percaya diri’ menjawab semua soal tes (walaupun belum sempurna). “Beneran bu dia bisa jawab? Dia kan sukanya ‘membeo’!”. Si anak masih agak ‘echolalia’, menjawab pertanyaan dengan cara mengulangi pertanyaan yang diberikan. Pada anak-anak dengan intellectual disability sering muncul gejala ini.
Pertemuan ke-3 adalah waktunya konseling hasil pemeriksaan. Si ayah datang sendirian. Saya awali konseling dengan mengungkapkan potensi-potensi anak. Saya ingin si ayah ‘melek’ dengan kemampuan anaknya sendiri. Kemudian perlahan-lahan saya informasikan tentang keterbatasan-keterbatasannya. Ini memang saat-saat terberat saat konseling dengan orang tua pasien. Bermacam-macam reaksi bisa muncul (dan sepertinya saya mulai terbiasa). Si ayah terlihat menyesali kondisi putrinya. Saya menyarankan agar anak ini dimasukkan ke sekolah khusus karena IQ-nya jauh di bawah rata-rata (di bawah 50), tapi beliau seperti mencoba ‘nego’. Saya sampaikan berbagai kemungkinan jika anak tetap di sekolah umum, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pasien-pasien saya yang lainnya. Saya berusaha untuk tidak memposisikan diri sebagai pemberi vonis, tapi memang anak ini butuh penanganan khusus.
Mendadak ayahnya seperti tidak terima dan berbicara tanpa henti. Beliau bahkan tidak mau mendengar apapun yang saya katakan. Saya berusaha menyela, tapi beliau sama sekali tidak mau mendengar. Terlihat jelas ekspresi campur aduk antara marah, sedih, ‘mangkel, atau yang kalau dirangkum jadi 1 istilah populer bisalah beliau disebut ‘nggondok’. Berulang-ulang beliau katakan “Saya sudah lakukan semua lho bu, saya beli susu mahal yang merknya ********-Gold, baru lahir langsung imunisasi, vitamin pun sering saya berikan… dia tidak pernah sakit bu, bahkan ibunya saat hamil sangat saya manjakan, demi supaya generasi yang lahir ini adalah anak yang sempurna! Dan yang pasti susunya itu lho buuuuu… ya Tuhankuuu… ********-GOLD!!! Kok ya bisa begini bu??? Dulu sampai umur 3 tahun itu dia puiiinnnnter banget. Sudah mau saya ajak joget-joget, mau ikut lagu apa yang dia tonton, mulai pinter ngomong, tapi terus berhenti dan kok sekarang malah sukanya membeo buuu… ibu lihat sendiri kan kemarin itu dia kalau menjawab pertanyaan seperti membeo? Burung beoooo… cuma niru, tapi pemahamannya gak ada! Di mana coba salahnya bu? Susunya paling bagus paling mahal, rutin saya bawa kontrol ke dokter… duh gustiiii… padahal vitaminnya itu lengkap buuuu dari A sampai Z… blablabla… blablabla… “ (kurang lebih seperti itu narasinya, berulang-ulang saja seperti habis mencet tombol autoreplay)
Proses konseling saya akhiri karena beliau sudah sama sekali sulit mendengarkan. Tapi sempat saya gali apa yang membuat perkembangan anaknya seperti terhenti di usia 3 tahun. Ternyata dari yang saya tangkap, saat itu adiknya lahir, dan semua perhatian tercurah ke adik. Orang tua ‘lupa’ bahwa si kakak ini pertu terus distimulai. Semua terhenti begitu saja tanpa ada yang menyadari kenapa. Padahal, dengan riwayat terlambat bicara (baru usia 3 tahun mulai ada kata-kata yang jelas maknanya), semestinya orang tua paham bahwa ada faktor risiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Saat saya berusaha menyadarkan si ayah bahwa tidak hanya ‘susu mahal’ dan ‘vitamin mahal’ yang menjadi faktor penentu tapi juga ada tugas stimulasi yang harus dipenuhi, beliau makin menjadi-jadi denialnya (padahal maksud saya supaya fokus beliau beralih, sambil berusaha membesarkan hati beliau bahwa ini bukanlah akhir segalanya bagi masa depan si anak). Ya sudah, saya pun merasa jika diteruskan maka sesi ini akan sangat tidak produktif. Beliau mengambil lembar hasil pemeriksaan sambil tertawa-tawa sinis menyesali mahalnya susu dan sulitnya memanjakan istrinya saat hamil. Semoga dia bersedia membaca masukan-masukan saya terkait pola relasi yang ada dalam keluarganya.
Seringkali kita mendengar orang berkata bahwa anak adalah investasi. Sebenarnya makna INVESTASI itu apa sih? Dan investasi yang seperti apa? Saya jadi berpikir negatif, sebegitunya kah beliau merasa ‘rugi’ karena ‘investasi’-nya membuahkan hasil yang sangat tidak sesuai harapan? Sah-sah saja jika kita berharap hasil yang terbaik, tapi apakah tepat jika sense of ‘untung-rugi’ itu diterapkan dalam pengasuhan anak…?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s