Tag Archives: wedding diary

Wedding Diary (13): The D-Day

Wedding Diary (13): The D-Day

Kemarin adalah hari pernikahan kami. Alhamdulillah… Semua terlihat sempurna. Ada lebih dari 20 jenis makanan dengan kualitas dan rasa terbaik, dekorasi etnik yang megah, dan undangan pun lebih dari 2000. Awalnya kami agak pesimis karena sejak subuh hujan turun deras sekali. Khawatirnya, kalau hujan masih turun deras bisa-bisa menyulitkan para tamu yang ingin hadir. Tapi kami selalu yakin bahwa hujan itu adalah pertanda berkah yang akan mengalir, dan ternyata sebelum acara dimulai hujan pun reda. Untung juga paginya hujan, karena siangnya jadi gak begitu panas. Read the rest of this entry

Wedding Diary (12): P.i.n.g.i.t

Wedding Diary (12): P.i.n.g.i.t

Hari ini aku mulai menjalani pemingitan. Hahaha… Dipingit di hari raya bukan ide yang bagus memang, karena di tengah2 kemeriahan di luar sana aku cuma di rumah aja. Tapi bagus juga karena di rumah sedang banyak sekali makanan, hehehe… jadi selain dipingit, sepertinya aku pun sedang di-’gelonggong’… XD

Ah sudahlah, sebenarnya postingan yang ini cuma sekedar untuk mengisi waktu di antara waktu makan… ;p

Wedding Invitation

Wedding Invitation

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dengan penuh kerendahan hati seraya terus memanjatkan syukur dan do’a pada Allah SWT, kami mengundang Bapak, Ibu, serta kerabat dan teman semua pada akad dan resepsi pernikahan kami yang insyaAllah akan dilaksanakan pada:

Minggu, 19 September 2010
Akad: Pukul 07.30 WIB s.d selesai
Resepsi: Pukul 10.00 WIB s.d selesai
Bertempat di kediaman keluarga mempelai wanita
Jl. Untung Suropati RT 45 No. 22, Puncak, Jelutung, Jambi

Kehadiran adalah silaturahmi, restu adalah do’a, dan keikhlasan adalah ketulusan hati.
Tiada yang membuat kami bahagia selain langkah yang diiringi do’a serta keikhlasan Bapak, Ibu, serta kerabat dan teman semua kepada kami sekeluarga.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat kami,

Widya & Bayu
beserta keluarga besar

Wedding Diary (11): Bakat lainnya ^^

Wedding Diary (11): Bakat lainnya ^^

Eh tau gak siiihhhhh ternyata aku boleh juga untuk urusan kerajinan tangan, hahaha!

Beberapa hari yang lalu mamaku menghubungi layanan perangkai seserahan (yang bikin-bikin jadi parsel itu…). Memang salah besar kalau baru menghubungi sekarang, karena ternyata pembuatan parsel semacam itu memakan waktu paling tidak 2 minggu (itu menurut pembuatnya, yang memang sudah langganan keluarga). Itu karena sudah dekat dengan Lebaran dan pegawai-pegawainya pada mudik. Aaaaggghhh!!! Sempat panik juga. Yang benar saja, nikahnya 2 minggu lagi masa’ parselnya juga baru selesai 2 minggu lagi. Akhirnya setelah melalui pertimbangan supermatang (ah entahlah), mamaku pun dengan santainya bilang “Kamu rangkai sendiri aja parselnya, nanti mama belikan kotak, keranjang, pita, kertas, dan bahan-bahan lain. Kamu sebut aja butuhnya apa”. WOW!!! Bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya untuk merangkai seserahanku sendiri!

Bahan-bahan sudah dibeli. Aku meletakkan semua barang di lantai. Terlihat sangat berserakan dan aku pesimis bisa menyelesaikannya…

But guess what… Read the rest of this entry

Wedding Diary (10): Beberes

Wedding Diary (10): Beberes

Tiba dari Jogja aku langsung membereskan beberapa detil pernikahan di Jambi. Orang tuaku sudah menyiapkan banyak hal rupanya. Kamar pengantin sudah fully-furnished, lokasi untuk siraman sudah ditata, halaman rumah sebagian sudah diberi pavement (dan sebagian lagi dibiarkan tetap berumput), jahitan pun sudah selesai. And the excitement is back! Jadi semangat lagi untuk mengurus semuanya. Read the rest of this entry

Wedding Diary (9): 3 weeks, 2 cities, 16 stores, 50 items!

Wedding Diary (9): 3 weeks, 2 cities, 16 stores, 50 items!

Kemana saja aku 3 minggu ini? Selain memang ada kesibukan dadakan yang mengharuskan aku untuk bolak-balik Jakarta-Jogja, di sela-sela waktu aku menyempatkan diri untuk berbelanja keperluan ‘seserahan‘. Ya, si calon suami memang tidak mau ambil pusing untuk mengurusi hal-hal semacam itu (dan sebaiknya memang begitu). Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau laki-laki disuruh membeli keperluan-keperluan wanita… (mereka cukup menyediakan dana sajalah) Read the rest of this entry

Wedding Diary (8): Jenuh

Wedding Diary (8): Jenuh

Ini bukan tentang asam lemak jenuh ataupun tak jenuh. Jangan berpikir terlalu jauh.

Ini jelas2 tentang kondisi terakhir kami. Sepertinya kami berdua sedang berada pada tahap jenuh. Begitu juga orang2 di sekitar kami yang juga terlibat dengan urusan ini.

Kenapa?

Macem2… mulai dari kesibukan yang saling menumpuk, perbedaan persepsi, komunikasi yang terhambat di beberapa pihak saja, dan… mmm… semuanya dilakukan dengan jarak jauh.

Lalu apa dampaknya? Read the rest of this entry

Wedding Diary (5): Dekorasi-Penjahit-Undangan

Wedding Diary (5): Dekorasi-Penjahit-Undangan

Tiring… +.+

Yeah, dealing with those wedding stuffs is the hardest part. Tapi tetap menyenangkan, karena adanya ekspektasi yang juga menyenangkan… hehehe…

Setelah janjian beberapa hari sebelumnya, aku baru bisa ketemu dengan salah seorang pengusaha penyedia layanan dekorasi pesta 2 hari yang lalu. Ibu2 pejabat ternyata, pantesan sulit sekali ditemui. Hasil pertemuan kali ini adalah tentang apa aja yang mau didekor, warna apa yang akan mendominasi, dan beberapa detil2 yang mau dikustomisasi (misalnya ice-carving, flower & fruit arrangement, jenis pelaminan, dll). Read the rest of this entry