Category Archives: Through the viewfinder

Photographs taken by me, or another imaging stuffs

Tedhak Siten

Tedhak Siten

Emang dasar maminya doyan dengan acara-acara semacam ini, jadilah tedhak siten-nya Raja pun diacarain. Menurut budaya di beberapa daerah di Indonesia (gak cuma Jawa lho), setelah usia selapanan ke-7 (kira-kira menjelang umur 8 bulan) bayi-bayi mulai boleh dilatih untuk berdiri dan berjalan atau istilahnya ‘turun tanah’. Nah karena kebetulan April ini ada libur panjang dan aku diizinkan untuk ambil cuti 2 hari, maka kami sekeluarga langsung berangkat ke Jogja dan bikin acara di sana.

Dari penjelasan si mas MC, tedhak siten itu adalah ritual yang secara simbolik menggambarkan kesiapan anak untuk menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan. Di awal acara anak akan dituntun untuk menapak di atas 7 macam jadah yg dibuat 7 warna dan disusun dari gelap ke terang. Maknanya adalah bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, insyaAllah ada titik terangnya. Setelah melewati jadah, anak dituntun untuk menapaki tangga Arjuna yang terbuat dari tebu ireng (tebu Arjuna). Setelah naik-turun tangga, anak akan menginjak onggokan pasir dan ‘eker-ekeran‘ di sana (seperti ayam lagi mencari makan gitu). Maknanya adalah kelak si anak akan mengarungi naik-turunnya hidup dalam mencari penghidupan.  Read the rest of this entry

Raja’s first meal

Raja’s first meal

Akhirnya Raja sudah 6 bulaaan. Waktunya makaaaaannnn… ^^
Sejak beberapa minggu sebelum jadwal MPASI (Makanan Pendamping ASI) alat2 ‘tempur’ mulai disiapkan. Ada yang sedang mendekati jadwal pemberian makanan pertama bayinya? Mungkin alat2 berikut ini akan segera dibutuhkan… ;)

image

  1. Slowcooker (Takahi) yang 0,7 liter.
  2. Food processor + steamer (Philips Avent)
  3. Saringan (Akebonno). Sebenarnya ini potato masher. Baru kepake nanti kayaknya, kalau udah bisa makan bubur yg agak kasar. Untuk sekarang2 ini Raja masih pakai saringan yang lebih halus.
  4. Sendok silikon (Glass Lock)

    Read the rest of this entry

Berbelanja

Berbelanja

Kemarin pagi aku berkesempatan untuk mampir ke pasar tradisional “Pasar TAC” bersama mamaku. Beliau mau membeli bumbu untuk masakan lebaran. Ternyata berbelanja di pasar tradisional itu menyenangkan. Barang-barangnya murah, terbuka untuk tawar-menawar, dan penjualnya pun ramah-ramah. Sapaan seperti “Ayo Bunda… ini buahnya masih segar…” atau “Silakan ibu cantik… kita gak kasih mahal kok…” cukup akrab di telinga bagi yang sering berbelanja di sana. Kebanyakan pedagangnya pun menyebut diri mereka tante, kakak, atau uni (sebutan bagi kakak perempuan dalam bahasa Minang). Read the rest of this entry