Emang dasar maminya doyan dengan acara-acara semacam ini, jadilah tedhak siten-nya Raja pun diacarain. Menurut budaya di beberapa daerah di Indonesia (gak cuma Jawa lho), setelah usia selapanan ke-7 (kira-kira menjelang umur 8 bulan) bayi-bayi mulai boleh dilatih untuk berdiri dan berjalan atau istilahnya ‘turun tanah’. Nah karena kebetulan April ini ada libur panjang dan aku diizinkan untuk ambil cuti 2 hari, maka kami sekeluarga langsung berangkat ke Jogja dan bikin acara di sana.
Dari penjelasan si mas MC, tedhak siten itu adalah ritual yang secara simbolik menggambarkan kesiapan anak untuk menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan. Di awal acara anak akan dituntun untuk menapak di atas 7 macam jadah yg dibuat 7 warna dan disusun dari gelap ke terang. Maknanya adalah bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, insyaAllah ada titik terangnya. Setelah melewati jadah, anak dituntun untuk menapaki tangga Arjuna yang terbuat dari tebu ireng (tebu Arjuna). Setelah naik-turun tangga, anak akan menginjak onggokan pasir dan ‘eker-ekeran‘ di sana (seperti ayam lagi mencari makan gitu). Maknanya adalah kelak si anak akan mengarungi naik-turunnya hidup dalam mencari penghidupan. Read the rest of this entry








