Raja & ASI Eksklusif

Raja & ASI Eksklusif

Hari ini Raja genap 6 bulan lho, dan itu artinya kami sukses melewati masa-masa ASIX (ASI eksklusif) yang dianjurkan. Woohoo!!! Senangnyaaaaa… ;’) *terharu*

Modalnya apa untuk sukses ASIX? Tentu yang terpenting adalah komitmen dan rasa percaya diri serta dukungan orang-orang terdekat (orang tua, suami, dan keluarga). Komitmen ini mulai kubangun jauh sebelum aku menikah dan hamil. Kebetulan tesisku ada hubungannya dengan ibu hamil, jadinya aku banyak berdiskusi dengan para bidan dan dokter tentang ASIX. Dari situ aku jadi paham bahwa ASI adalah nutrisi pertama, utama, & terbaik untuk bayi. Mungkin terdengar mudah, tapi buktinya banyak ibu yang belum berhasil memenuhi kebutuhan ASI anaknya.

Saat mulai hamil dan bekerja, keraguan untuk bisa memberikan ASIX mulai terasa. Jam kerja plus waktu perjalanan yang hampir mengambil setengah hari sendiri membuat aku khawatir tidak sanggup. Apalagi kebanyakan teman-teman di kantor pun ‘gagal’. Beberapa di antara mereka bahkan berusaha meyakinkan aku bahwa ASIX adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh wanita bekerja. Bayangkan saja berada di lingkungan seperti ini, gimana gak menciut! >.< Tapi ternyata keinginanku jauh lebih kuat daripada pengaruh mereka, sehingga PD pun naik lagi. Alhamdulillah…

Mendekati jadwal melahirkan, aku mulai ‘mencari dukungan’. Aku berkumpul dengan orang-orang yang ‘pernah sukses’ dan yang ‘yakin akan sukses’ memberikan ASIX. Aku berguru pada konselor laktasi di komunitas ibu menyusui, mengikuti kelas laktasi, sharing dengan ibu-ibu di kelas senam hamil, dan yang pasti tidak terlewatkan adalah sharing dengan mamaku (aku juga dulu bayi ASIX lho :D )! Ternyata dukungan dari mereka membuat aku makin yakin bahwa aku pun bisa. Alhamdulillah dokter SpOG-ku juga proASI (padahal beliau laki-laki), jadi lega dan tenang menghadapi persalinan (di mana banyak ibu-ibu ‘kecolongan’ saat persalinan). Sesuai dengan harapan, IMD pun sukses dilakukan, dan setelah bayiku ‘menemukan puting’ kami juga masih punya waktu untuk peluk-pelukan selama proses penjahitan. *katanya kontak fisik/skin-to-skin juga mempengaruhi keberhasilan ASIX lho*

Beberapa hari pascakelahiran, cobaan mulai berdatangan. Raja harus menjalani fototerapi karena kadar bilirubinnya tinggi. Perawat menawarkan susu formula karena khawatir hasil perahan ASI-ku tidak mencukupi (Raja tidak boleh sering-sering disusui langsung supaya fototerapinya efektif). Yah namanya juga sedang agak-agak stress, perahan jadi sedikit. Di satu sisi aku kasihan kalau Raja harus diberi susu formula, tapi di sisi lain masa’ cuma gara-gara itu Raja gak diterapi? Ah aku binguuuunggg. Tapi ada saja jalan dari Tuhan untuk membuat aku tidak menyerah di sini. Bagaimanapun caranya, Raja tetap ASIX! Ujian pertama terlewati! ;)

Saat usia Raja sekitar 2 bulanan, aku dijadwalkan untuk ikut diklat prajabatan 3 minggu (biasa… CPNS…). Awalnya sempat ragu juga. Anak masih bayi banget, harus dibawa menginap, stok ASIP (ASI Perah) baru sedikit pula (baru 7 botol!). Tapi ini memang konsekuensi kalau mau berperan ganda sih. Akhirnya mantap memutuskan untuk ikut! Untungnya dapat lokasi yang dekat dengan rumah, jadi suamiku bisa nengokin anaknya kapanpun dia mau. Kasihan… Ditinggal anak istri (plus pembantu) yang cuma pulang seminggu sekali… XD

Selama diklat Raja kutinggal hampir 15 jam sehari. Setiap 2-3 jam sekali aku meninggalkan kelas untuk ke nursery-room dan memerah ASI di sana, kemudian mengantarnya ke kamar. Lumayan juga, dalam 15 menit aku harus turun ke lantai 2, perah2 di nursing room, dan berlari2an ke kamar yang ada di gedung lain. Ya kalau pas ishoma bisa menyusui langsung di kamar karena jedanya agak lama. Beberapa teman diklatku ternyata juga sama ‘heboh’-nya, dan kami berhasil untuk tidak menyerah! ;) *ya gapapa deh aku dapat julukan ‘emak rempong‘ saking hebohnya men-supply ASIP hahaha*

Selesai diklat aku harus langsung masuk kerja. Raja tinggal di rumah bersama nanny dan aku cuma punya stok ASI sekitar 16 botol @100 ml. Hari2 ‘krisis ASI’ & ‘kejar tayang’ pun dimulai. Setiap hari aku harus bisa memerah minimal 600 ml. Dalam kondisi normal Raja minum rata2 500-600 ml saat ditinggal 8 jam, tapi dalam beberapa waktu dia bisa sampai 1 literan. Umumnya bayi memang lebih banyak minum saat dia belajar tengkurap, guling-gulingan, & merangkak. Woooosssaaahhhhh… Benar-benar bikin panik setiap si nanny SMS “Bu, susunya nambah 1 botol lagi yang dicairin…”. Rasanya berapapun akan kubayar kalau ada alat pengganda volume ASI. Shut up and take my money!!! >.<

Gak terasa sudah 6 bulanan ngASIX. Perjuangannya menjadi ibu ternyata begini ya. Setiap hari bawa-bawa pumping-kit, apron, cooler-bag, & botol2-botol kaca. Di awal-awal masuk kerja sempat ada seseorang yang agak ‘menertawakan’. Mungkin dia heran kali ya kok aku bawa-bawa begituan. Zaman dia dulu gak ada pompa dan anak-anaknya pake susu formula. Dia bahkan terkesan agak ‘menantang’, sampai kapan sih aku bisa bertahan dg kondisi ini. Tapi setelah beberapa minggu melihat aku yg cukup konsisten, dia pun berbalik menjadi ingin tahu lebih banyak tentang cara menyiapkan ASIP. Dan dia bilang dia mau ‘menularkan’ semangatku pada anaknya yang sebentar lagi mau menikah. Ah senangnyaaaa… Bertambah lagi jumlah calon-calon oma yang peduli ASI… ^^

Bukan bermaksud mengecilartikan ibu-ibu yang memberi anaknya susu formula. Setiap ibu pasti punya alasan dan pertimbangan masing-masing. Tapi jika memang ada keinginan untuk memberikan yang terbaik no. 1, mengapa harus berpikir tentang yang no. 2? Ternyata memang benar kata konselorku. Memberi ASI itu harus ‘keras kepala’. Tidak boleh gampang down gara-gara lingkungan yang kurang mendukung. Dukungan itu bisa dicari, yang penting niatnya mesti kuat dulu. Dulu ketika aku lahir belum ada pompa ASI secanggih sekarang. Pemasaran susu formula melalui RS pun sedang gencar-gencarnya. Tapi dengan bekal ilmu ASIX dari seorang perawat, mamaku bisa juga tuh ASIX. Beliau pun ibu bekerja. So aku berpikir kalau aku HARUS bisa. Alhamdulillah Tuhan mengizinkan.

Ada yang bilang, jangan pernah mengeluhkan kerepotan yang dialami saat menyusui. Katanya bisa bikin ASI berkurang bahkan berhenti diproduksi. Ya masuk akal juga sih, sudah dianugerahi kemampuan menyusui kok malah mengeluh. Padahal banyak ibu-ibu yang tidak bisa menyusui anaknya, entah karena sakit ataupun kurang ilmu. InsyaAllah kalau ada niat, Tuhan akan memberi jalan. Ayo ibu-ibu, jangan menyerah ya. Menyusui itu nature-nya seorang wanita. Upgrade ilmu supaya gak ragu lagi. Mudah-mudahan ceritaku bisa menginspirasi ibu-ibu yang sedang ‘berjuang’. Semangaaaattt… ;)

***

Posted from WordPress for Android

4 Responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s