Beberapa hari ini aku agak uring2an. Kepala rasanya panas & penuh. Mungkin karena terlalu lelah juga, jadinya malah terlalu mudah marah, terlalu mudah kecewa, terlalu mudah sedih… yg pasti energi2 negatif terlalu mudah bersarang di kepalaku. Salahku juga, pekerjaan kubiarkan tertunda. Giliran aku dikejar2 deadline yg ada malah uring2an.
Kemarin itu maksud hati kepingin curhat & manja2an dgn salah satu orang terdekatku. Tapi bukannya mendapat rayuan maut, yang ada malah aku diceramahi. Diajak ‘mikir’ pula. Padahal jelas2 aku sudah bilang kalo aku sedang lelah otak, tak sanggup berpikir. Sudah beberapa orang pun yg jadi sasaranku. Bukan strategi coping yang efektif memang, tapi begitulah yang terjadi kalo aku sedang stres. Rencana awal untuk ‘kencan’ via telpon pun berantakan. Aq malah menghabiskan malam dengan menangis-nangis tak jelas sampai ketiduran.
Pagi ini aku bangun agak lebih telat dari biasanya. Mood-ku masih belum kembali ke titik normal. Ternyata tak ada perbaikan. Yang ada aku masih marah2 dan mengirim email2 tak jelas yang mengungkapkan kekecewaan. Aku sebenarnya tidak suka keadaan emosi seperti ini, tapi mau gimana lagi, racun belum ada penawarnya. Jadilah seharian aku bete. Aku coba killing time (and killing negative mood) dengan melanjutkan pekerjaan (revisi tesis pasca kompre). Lumayan dapat beberapa halaman yang terevisi. Tapi kepala ini masih sakit aja… sepertinya banyak yang harus kukeluarkan…
Tak lama mamaku nelpon, tepat setelah adzan dzuhur. Sepertinya mamaku sedang sendirian di rumah, 2 lelaki yang biasa menemaninya di rumah pasti sedang Jumatan. Seperti biasa pertanyaan pertamanya “Lagi apa?”. Aku pun menjawab sekenanya, “Ada deh,,”. Setiap aku berkata begitu, beliau pun hampir bisa dipastikan balik bertanya, “Ah, sibuk apa sih?”. Selama beberapa kali hanya ada dialog2 pendek seperti itu. Akhirnya aku pun mulai bercerita tentang apa yang terjadi sejak kemarin hingga sebelum beliau menelpon. Tentang kemarahan2ku, kekecewaanku, kelelahanku, dsb. Ceritaku mengalir sangat kencang, aku tak yakin mamaku menangkap semua yang aku katakan. Beliau tak banyak menanggapi, hanya sesekali mengeluarkan kata2 “Ha?”, “Oya?”, “Masa sih?”, “Waduh…”, “Terus?”, ya semacam itulah. Dengan sesekali hanya tertawa mendengar kisah2 absurd-ku, atau yang agak parah beliau tiba2 menyebutkan nama penjahit langganannya yang belum juga menyelesaikan pesanan beberapa bulan yang lalu.
Sepertinya mamaku tidak begitu ‘stay tune‘ dengan cerita2ku (padahal aku ceritanya sambil berkaca2, cuma kutahan2 saja supaya tak menangis, bisa bikin beliau panik…). Tapi walaupun sepertinya beliau tidak menanggapi apa2, tapi aku tau beliau mendengarkan aku. Entah bagaimana ceritanya tiba2 aku langsung merasa lega. Dan sepertinya beliau tau kalau aku sudah selesai ‘katarsis’, kemudian beliau bertanya, “Sudah makan belum? Hari ini mama masak sup lho, uwh… uennnaaaakkk bgt.”. Aku hanya berkata, “Belum, belum lapar. Mungkin nanti sore…”. Dalam hati aku percaya, clear soup buatannya tidak ada yang menandingi. Aku pun langsung bersemangat untuk sedikit berbagi cerita tentang makanan favoritku baru2 ini, “Kemarin menu makanku full jamur lho…”, dan seketika itu juga kami langsung membahas beberapa jenis jamur, dan cara mengolahnya. Every details of them. Sepertinya aku lupa kalo sebelumnya aku sempat bercerita dengan berapi2, meledak2, penuh amarah, & bercucuran air mata (walaupun mamaku g tau). Oh ajaib…
Sebenarnya kami punya banyak ketidakcocokan. Benar2 tidak cocok, karena memang bertolak belakang. Tentang selera musik, kami tidak cocok. Yah mungkin beda jaman juga. Selera tontonan, lebih tidak cocok lagi. Apa yang beliau tonton adalah semua yang aku tak suka. Tapi entahlah kalo soal sinetron Manohara, aku belum menggalinya lebih dalam (keliatannya beliau juga tak sudi menontonnya). Yang lebih seru lagi kalo kami sedang membahas tentang politik atau gosip2 artis. Kami akan membela pihak yang saling bertolak belakang. Sangat tidak penting memang, tapi kami menikmatinya. Belakangan yang sering membuat kami bersitegang adalah tentang rencana pernikahanku. Ah, terlalu panjang untuk dibahas. Di sisi lain, kami sangat cocok dalam hal makanan, fashion, dan nilai2 hidup. Kami bisa menghabiskan waktu berjam2 di dapur atau di pusat perbelanjaan bersama.
…
Tadinya aku tidak berharap banyak ketika beliau menelponku. 47 menit 14 detik. Beliau memang tidak begitu banyak memberi tanggapan, tapi aku tau beliau mendengarkan. Mungkin dalam hati beliau hanya berkata “Ah, anak ini sedang mencari pelampiasan…”. Tapi memang itu yang kubutuhkan. Aku hanya butuh didengarkan, bukan diceramahi, dan bukan disuruh memikirkan solusi. Ada kalanya seseorang hanya minta disediakan sepasang telinga. Mungkin mamaku bukan psikolog, bukan pula terapis. Tapi beliau selalu tau bagaimana menenangkan seorang anak perempuan sok dewasa yang sedang (dan hampir selalu) uring2an…
I love u mama.
:::::::::::::::::::::::::


ouwwhh… i luv my mama too…
You love me…? Your step-mama…?
jd tau lah skrg klo mo katarsis kmana..:p
Ya iya Laaahhh… kmu tuw yg g puNya media katarsis,, jadiLah si *** sasarannya… hahaha…
huhuhuhu… *nangis sendirian dipojokan….
Jgn dipojokan, bnyk preman,,
sip… memang mama tuh punya sumber solusi untuk setiap masalah kita..kadang tanpa beliau berkata apapun tentang masalah kita, tapi rasanya kalo dah curhat ke mama rasanya legaaa banget.. btw si bayu nangdi? hehehe
Bayu nang Jakarta yo maaaassss…